//]]>
Portal Informasi Pendidikan dan Karya Ilmiah Terbaik
Artikel Terbaru »
Bagikan kepada teman!

Jadwal 16 Besar UEFA Euro 2016

Penulis : Sutrisna Center on Saturday, June 25, 2016 | 11:02 AM

Saturday, June 25, 2016


komentar | | Read More...

Info Batas Waktu Sinkronisasi Aplikasi Dapodik Semester Genap 2015 2016

Ingat! Batas Waktu Sinkronisasi Aplikasi Dapodik Semester Genap 2015 2016

Yth. Bapak/Ibu
1. Kepala Sekolah SD, SMP, SMA, SMK dan SLB
2. Operator Dapodik SD, SMP, SMA, SMK dan SLB
di seluruh Indonesia
Assalamu alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Menindaklanjutipersiapan upgrade database dapodik dari versi 2.4.7 menjadi 2.5.3 yang kemudian diikuti dengan maintenance server dan perbaikan/penyesuaian aplikasi, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh operator sekolah, di antaranya:
Tanggal 24 – 30 Juni 2016


Mengingat batas waktu untuk perbaikan data dapodik untuk kebutuhan data Transaksi di Ditjen. GTK dan masa aktif periode genap tahun pelajaran 2015/2016 akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2016, maka kami berharap operator Sekolah melakukan sinkronisasi sebelum batas yaitu tanggal 30 juni 2016 Pukul 23.59 WIB.


Kemudian kami mohonkan agar informasi batas pengiriman data seperti diatas disampaikan kepada teman teman operator lainnya mengingat pada aplikasi baru nantinya tanpa rilis aplikasi “updater” dan langsung menggunakan Aplikasi Dapodik 2016 Ditjen Dikdasmen “Installer” serta menggunakan prefill baru.
Tanggal 1 sd 17 Juli 2016
Upgrade Database Dapodik 2016 Ditjen Dikdasmen dari 2.4.7 menjadi 2.5.3. Sekolah diharapkan untuk menyiapkan Dokumen pendukung untuk entri data kelas I, VII atau X dan TIDAK DIIJINKAN melakukan proses sinkronisasi.


Tanggal 18 Juli 2016
Rilis Aplikasi baru Dapodik 2016 Ditjen Dikdasmen.
Kami mengingatkan kembali bahwa kelulusan siswa kelas VI, IX dan XII Tahun 2015/2016 termasuk input data untuk siswa baru kelas I, VII dan X tahun 2016/2017 dilakukan setelah referensi tahun pelajaran 2016/2017 diaktifkan. Informasi pembukaan tahun pelajaran 2016/2017 secara teknis akan disampaikan melalui website resmi pendataan di http://dapo.dikmen.kemdikbud.go.id atau http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id
Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu operator sekolah, Kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
komentar | | Read More...

Cara Menentukan Rangking Otomatis di Excel

Penulis : Sutrisna Center on Saturday, June 11, 2016 | 5:15 AM

Saturday, June 11, 2016


Beberapa waktu lalu aku kedatangan teman seorang guru dan ia menjadi wali kelas di kelas 4 dan 5 di tempat ia mengajar, setelah basa basi ngobrol ngalor ngidul akhirnya temenku menyampaikan keluhan bahwa dia sedang menggarap raport siswanya dan tinggal mencantumkan Rangking dari masing2 muridnya akan tetapi ia tidak dapat menghitung nilai yang ada untuk menentukan Rangkingnya secara otomatis, nah akhirnya aku kasih saran kepadanya untuk membuat Rangking Otomatis dengan menggunakan Excel, pada intinya ia tidak tahu bahwa di excel bisa juga untuk menentukan rangking secara otomatis singkat cerita ia mintak diajari caranya kepada saya, "wah ganteng2 gini saya jadi gurunya guru dong" hehehe.....
dari situlah sobat aku berinisiatif untuk berbagi pengalaman ini dalam postingan di GFT kepada pembaca sekalian mudah-mudahan berguna...

Ok lansung saja.......

Dalam Dunia Excel dikenal Formula Rank atau Fungsi Rank, Fungsi Rank adalah suatu fungsi untuk menentukan posisi atau rangking dari suatu bilangan yang terdapat dalam daftar atau sekelompok data dan rumus yang digunakan adalah :

=RANK(number,ref,order)

Keterangan:
number, adalah nilai yang akan dijadikan dasar rangking. Untuk contoh kasus dibawah sel dari Nilai Rata-Rata yang menjadi dasar untuk perankingan (sel M13)
ref, berupa range yang diabsolutkan dari kolom yang menjadi dasar merangking (range $U$13:$U$22)
Order, bersifat opsional. Jika tidak dicantumkan maka dianggap bernilai 0. Parameter ini hanya mengijinkan nilai 0 dan 1. Jila diberi nilai 0, maka rangking dalam bentuk descending yaitu nilai tertinggi menjadi rangking 1.  Jila diberi nilai 1, maka rangking dalam bentuk ascending yaitu nilai terendah menjadi rangking 1. untuk kasus ini parameter order dapat diabaikan atau diberi 0.

Perhatikan Gambar Studi Kasus dibawah ini :


Dengan Studi kasus pada gambar diatas maka rumus jadinya adalah :

=RANK(M13;$M$13:$M$22;0)

M13 adalah posisi dimana terdapat suatu nilai untuk kita ketahui rangkingnya setelah kita bandingkan dengan nilai lainnya dalam daftar tersebut (perhatikan M13:M22)


Sedankan angka 0 (nol) untuk menunjukkan urutan secara Descending atau mengurutkan suatu nilai dimulai dari nilai yang terbesar sampai nilai terkecil.

selanjutnya Copy Vaste rumus tersebut  kebawah
dan akan menghasilkan Rangking Otomatis seperti gambar berikut :



Demikian sobat Cara Menentukan Rangking Otomatis di Excel semoga bermanfaat.......
Terimakasih.........
komentar | | Read More...

#Dibalik Tembok Keraton



PADA 1824 terjadi kehebohan di Keraton Surakarta. Seorang selir, dengan memainkan peran maskulin, kedapatan berhubungan seks dengan selir lainnya. Pakubuwono V juga menemukan para selirnya melakukan masturbasi bersama dengan menggunakan lilin yang dibentuk seperti alat kelamin laki-laki.

Sejak itu dia tak memperbolehkan para selirnya tidur dalam ruang tertutup. Dia memerintahkan agar para selirnya tidur di depan kamarnya setiap malam. Mereka berbaring berjajar dalam masing-maisng berjarak enam kaki. Pakubuwono V rupanya khawatir para selirnya akan lebih menyukai bentuk aktivitas seksual “alternatif” itu alih-alih berhubungan dengan laki-laki.

Skandal itu, sebagaimana dikutip Saskia Wieringa dan Evelyn Blackwood dalam antologi Hasrat Perempuan, dicatat penerjemah Belanda yang dekat dengan kalangan keraton Surakarta, JW Winter, pada 1902.

Selir, dalam bahasa Jawa Halus disebu garwa ampeyan, adalah seorang perempuan yang diikat tali kekeluargaan oleh seorang lelaki tapi tak berstatus istri. Status selir berada jauh di bawah permaisuri. Artikel berjudul “Atas Nama Kekuasaan dan Seks”, yang dimuat majalah Tempo pada 12 September 1987, menulis bahwa tak ada batas berapa banyak seorang raja boleh memiliki selir. Hamengkubuwono boleh memiliki hingga 30 selir, Hamengkubuwono II memiliki 4 permaisuri dan 26 selir. Pakubuwono X menjadi raja Jawa dengan selir terbanyak, 40 orang.

Raja tak bisa sembarangan jika ingin bertemu dengan selir. Seorang punggawa dengan tugas khusus mengatur jadwal pertemuan. Ini dilakukan agar setiap selir mendapat giliran dan menghindari raja hanya memanggil selir yang dia ingat.

Selir dan anak-anak mereka yang masih kecil beserta pembantu perempuan biasanya ditempatkan di dalam keputren yang amat tertutup. Letak keputren biasanya berada di lingkaran terdalam keraton. Menurut Nancy K. Florida dalam Writing The Past, Inscribing The Future, setidaknya hingga abad ke-19, satu-satunya lelaki yang memiliki akses masuk ke keputren Surakarta hanyalah Sultan.

B.J.D Gayatri, seorang feminis Indonesia, berdasarkan apa yang dia pelajari dari almarhum neneknya yang tinggal di dalam tembok istana Yogyakarta, menurutkan kepada Saskia Wieringa bahwa keputren adalah sebuah tempat eksklusif yang merupakan domain perempuan. “Dalam rumahtangga poligini tersebut para perempuan dalam keputren terlibat persahabatan dengan perempuan, yang kemungkinan besar melibatkan keintiman seks sesama jenis, tanpa perlu khawatir (terungkap hubungan itu),” tulis Saskia Wieringa dalam “Reformasi, Sexuality and Communism in Indonesia”, makalah untuk konferensi pertama Seksualitas dan HAM di Manchester, Juli 1999.

Sejumlah kakawin, syair-syair dalam bahasa Jawa Kuno, seperti Kresnayana, Gatotkacasraya, dan Sutasoma juga membahas banyak aspek kehidupan para perempuan keraton. Namun, menurut Helen Creese dalam Women of the Kakawin World, seksualitas perempuan yang ditampilkan dalam kakawin nyaris seluruhnya heteroseksual. Padahal para perempuan bangsawan itu berbagi tempat tidur dan hidup dalam kontak yang intim satu sama lain. “Bahkan dalam sebuah dunia terkungkung yang seluruh isinya adalah perempuan, interaksi seksual sesama jenis (nyaris) tak pernah digambarkan,” tulis Creese.

Hanya kakawin Hariwangsa yang agak eksplisit menggambarkan interaksi seksual sesama perempuan. Ini dapat dilihat dalam adegan Dewi Rukmini mencari penghiburan kepada Kesari, perempuan yang menjadi sahabat dekatnya sejak masa kanak-kanak.

“Siang-malam keduanya tak terpisahkan, saling menghibur; keduanya santai namun bersemangat. Ada waktu-waktu tertentu mereka membicarakan kesenangan yang bersifat erotis, tapi mereka membicarakan semua itu dalam kiasan. Ditingkahi derai tawa dan pandangan penuh arti yang mengandung gairah.”

“Jika Rukmini menangkap kesan bahwa Kesari berlaku seperti kekasihnya, dia paham bagaimana menanggapinya. Berpura-pura tenang dan tak memberi perhatian, lalu mulai merayu, berbicara, menanggapi –dan tiba-tiba berlaku berani. Namun dia tahu bahwa dia tak kuasa memenuhi hasrat Kesari.”

Yang menarik, meski keraton seolah tak mengakui keberadaan interaksi seksual semacam itu, bentuk-bentuk transgenderisme bukan sesuatu yang asing. Dalam epos Mahabarata dikisahkan bahwa Srikandi terlahir sebagai seorang perempuan, Dewi Amba. Bisma menolak Amba sebagai calon istrinya. Sakit hati, dia memohon kepada dewata. Doa itu dikabulkan, dia terlahir kembali sebagai Srikandi. Sebuah suara membisikkan kepada orangtuanya agar Srikandi dididik sebagai laki-laki. Orangtuanya memenuhi bisikan itu. Srikandi hidup sebagai laki-laki, dan suatu hari menikah. Tapi istrinya mencemoohnya ketika tahu Srikandi seorang perempuan. Srikandi patah arang, nyaris bunuh diri. Untunglah dia bertemu seorang pendeta yang kemudian memberinya kelamin laki-laki. Dia kembali ke istrinya, sudah jadi laki-laki, dan kemudian beroleh keturunan. Saat meninggal barulah dia kembali menjadi perempuan.

Peter Carey dan Vincent Houben dalam “Spirited Srikandis and Sly Sumbadras”, dimuat bungarampai Indonesian Women in Focus: Past and Present Notions karya Elsbeth Locher-Scholten dan Anke Niehof, merefleksikan sosok Srikandi yang androgini pada Prajurit Estri, sebuah laskar prajurit elit keraton yang seluruh anggotanya perempuan. Mereka memiliki keahlian berperang, dan terkenal mahir menembak jitu. Mereka juga menguasai seni dan kesusatraan. Menurut Carey dan Houben, sosok Srikandi dalam epos Mahabarata memberikan legitimasi kepada perempuan dalam laskar elit tersebut untuk “bertingkahlaku seperti laki-laki”, menguasai keahlian laki-laki, juga hidup tak bergantung pada orang lain.

Keraton Jawa juga mengenal Ardhnariswara, yang bagian kanan tubuhnya laki-laki (dewa Syiwa) dan bagian kirinya perempuan (dewi Shakti). Saskia Wieringa dalam makalahnya “Intersex and Transex in Asia”, mengutip Helen Creese, mengemukakan bahwa Ardhnariswara juga disebutkan dalam bentuk tantra dari yoga tentang cinta (yoga of love) di mana penyatuan antara Syiwa dan Shakti menciptakan “benih dunia” (windu). Penyatuan kosmik ini menghasilkan kepuasan seksual sekaligus kesejahteraan dunia; melambangkan kelimpahan hidup. Menurut Wieringa, penyatuan laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh merujuk pada kehebatan spiritual sekaligus kenikmatan ragawi dari cinta.

Contoh lainnya, dewi Durga. Mengutip Alit Mookerje dalam Kali: The Feminine Force, Wieringa menulis ketika kekuatan kolektif para dewa laki-laki digabungkan dengan energi feminin Durga, dewa/dewi itu mampu mengalahkan iblis Mahisha yang mengancam akan menghancurkan para dewa. Proses terciptanya dewa/dewi dengan kekuatan super ini dikaitkan dengan energi luar biasa, yang memancarkan api ke segala arah. Inilah asal-muasal rahim bercahaya (flaming womb), sumber kekuatan dari Ken Dedes.

Ken Dedes, menurut Carey dan Houben, adalah sosok perempuan dengan kualitas Ardhnariswara. Dia adalah reinkarnasi dari Betari Durga. Ken Dedes memiliki kekuatan destruktif yang amat besar. Hanya lelaki luar biasa yang mampu menundukkan kekuatannya. Jika berhasil, lelaki itu akan beruntung, sebab perempuan titisan Durga memiliki kekuatan untuk memberikan kekuasaan dan bentuk legitimasi lain kepada pasangannya. Dan lelaki itu adalah Ken Arok, yang setelah menikahi Ken Dedes menjadi raja Tumapel –lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari– dan kelak menurunkan raja-raja di Jawa.

sumber : http://historia.id/budaya/di-balik-tembok-keraton
komentar | | Read More...

INILAH PERBEDAAN MENCOLOK GURU ZAMAN DAHULU DAN GURU SEKARANG

Penulis : Sutrisna Wijaya on Monday, June 6, 2016 | 10:14 AM

Monday, June 6, 2016

Assalamu'alaikum wr.wb. selamat siang dan salam sejahtera untuk rekan-rekan guru seluruh indonesia....
pada kesempatan kali ini saya akan berbagi bagaimana perbedaaan guru jaman dulu dan sekarang dalam hal mendidik dan mengajar siswa dikelas, 
Segala sesuatu yang ada di dunia pasti tak luput dari yang namanya kekurangan. Sama halnya dengan profesi guru. Entah itu guru zaman sekarang ataupun zaman dahulu semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Nah, kali ini saya akan berbicara mengenai 5 Perbedaan Guru Dulu dan Sekarang. Hal apa sajakah yang membedakan guru Zaman Dulu dan Sekarang ? ini dia
1. Cara Mengajar
Cara mengajar yang diterapkan oleh guru zaman dulu umumnya adalah dengan menggunakan penjelasan yang bertele-tele, yang sepertinya setiap kata yang ada di buku itu dibaca. Dengan metode ini, pengetahuan yang diterima siswa hanya bersumber dari sang guru saja.
Sedangkan guru zaman sekarang lebih sering hanya menjelaskan secara singkat materinya, lalu mempersilahkan para siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan. Dengan cara ini, siswa jadi terpacu untuk mengembangkan pengetahuannya di luar sekolah. Misalnya dengan browsing di Internet, mengikuti kursus, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang didapat pun akan semakin banyak.
2. Cara Menasihati Siswa
Cara menasihati siswa yang dilakukan oleh guru-guru zaman dulu adalah dengan kalimat- kalimat yang biasanya kasar. Seperti menyinggung kondisi ekonomi keluarganya, penampilannya, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat para siswa saat itu menjadi berfikir keras agar tidak akan diledek oleh guru-guru mereka.
Perlakuan berbeda dilakukan guru zaman sekarang. Mereka biasanya menasihati para murid hanya dengan nasihat-nasihat yang halus dan tidak sampai menyinggung perasaan murid tersebut. Cara ini kurang efektif karena murid kadang-kadang hanya mendengarkan di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
3. Cara Berinteraksi Diluar Kelas
Guru-guru zaman dulu dengan gaya mengajarnya kaku, diluar kelas apabila disapa oleh murid nya, mereka hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja. Karena dalam diri mereka, ada suatu doktrin yang menjelaskan bahwa ada garis pemisah antara guru dan murid. Jadi, sang murid harus sangat menghormati gurunya.
Sedangkan guru zaman sekarang lebih luwes dalam berinteraksi diluar kelas. Misalkan saja ada murid-muridnya yang menyapa, mereka akan tersenyum lepas dan kadang-kadang justru bercanda dengan murid-muridnya itu. Seakan akan tidak ada garis batas antara murid dan guru. Guru pun bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hati kita (curhat) tentang sekolah maupun kehidupan sehari-hari kita.
4. Penggunaan Teknologi
Ketika zaman dulu, yang mana saat itu teknologi belum secanggih sekarang ini, seorang guru apabila ingin menjelaskan materinya, hanya dengan menggunakan kapur dan papan tulis kayu saja. Atau bila dengan alat bantu, paling jauh hanya menggunakan peta untuk pelajaran geografi.
Hal yang sangat berbeda dilakukan oleh guru zaman sekarang. Guru sekarang lebih senang menuliskan materi ajarnya di sebuah file presentasi yang nanti hasilnya bisa ditampilkan di layar menggunakan LCD proyektor. Disamping lebih praktis, cara ini bisa membantu para siswa untuk mengetahui lebih detail suatu gambar/objek/benda.
5. Pemberian Nilai
Pemberian nilai yang dilakukan oleh guru zaman dulu adalah selain nilai asli, ada nilai yang diambil secara subyektif oleh guru tersebut. Hal-hal yang dinilai antara lain adalah kesopanan, etika, dan keantusiasan siswa tersebut dalam mendalami materi yang diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut.
Berbeda dengan guru zaman sekarang. Kebanyakan guru zaman sekarang hanya mengisi kolom nilai seorang murid hanya dari hasil rata-rata ulangan ditambah tugas, dan keaktifannya dalam bertanya ataupun menjawab. Sehingga tidak jarang nilai yang muncul di rapor tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari murid tersebut.
Guru zaman dahulu dan zaman sekarang ternyata memiliki perbedaan yang sangat menonjol, dan ini menunjukkan ciri khas masing-masing guru. Nah, alangkah lebih baik, apabila hal yang baik di masa lalu diterapkan di masa kini dan hal yang buruk dijadikan pelajaran. Well, bagaimana Sobat? setujukah dengan opini di atas ?
Apa Bedanya Guru Dulu dengan Guru Sekarang?
komentar | | Read More...
close
close

Arsip

 
Copyright © 2009-2014. MITRA PUSTAKA . All Rights Reserved.
Design Template by mitramedia | Powered by Blogger